Menu

Mode Gelap

Berita · 2 Agu 2023 22:09 WIB

Darurat Stunting, Mahasiswa KKN Kolaborasi 239 Lakukan Penyuluhan PHBS dan Edukasi Gizi Sebagai Awal Pencegahan Stunting di SDN 4 Jember Lor


 Dokumentasi Mahasiswa  KKN  Kolaborasi 239 Bersama Para Siswa Siswi SDN 4 Jember Perbesar

Dokumentasi Mahasiswa KKN Kolaborasi 239 Bersama Para Siswa Siswi SDN 4 Jember

Jember, Publikapost.com – Mahasiswa KKN Kolaborasi yang terdiri dari Universitas Jember, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Universitas PGRI Argopuro, dan Universitas dr. Soebandi lakukan upaya pencegahan stunting melalui penyuluhan PHBS serta edukasi gizi di Kabupaten Jember, Kecamatan Patrang, Kelurahan Jember lor. Penyuluhan tersebut dilakukan di beberapa tempat, salah satunya di SDN 4 Jember Lor pada Senin, (29/07/2023).

Hal tersebut didasari oleh data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 Kabupaten Jember merupakan wilayah dengan angka stunting tertinggi di Jawa Timur yakni mencapai 34,9% balita atau sekitar 35 ribu balita.

”Angka stunting yang tinggi dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak-anak di wilayah Kabupaten Jember. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan status gizi anak serta edukasi tentang pola makan sehat,” Ujar Dian Aris Monna, Mahasiswa KKN kolaborasi 236 asal Universitas dr. Soebandi Jember.

Mahasiswa asal Universitas Jember, Muhammad Abdul Rouf Juga menjelaskan, terkait model perhitungan yang dilakukan UNICEF, WHO dan World Bank dalam laporannya di tahun 2021, yang memperkirakan angka prevalensi stunting di Indonesia berada di angka 31,8 persen pada tahun 2020.

”Jika dilihat dari skala WHO maka angka tersebut masih dalam kelompok kasus tinggi (high) sebab di atas 30 persen. Angka aman atau rendah kasus (low) menurut WHO adalah kurang dari 20 persen. Berbagai penelitian menyebutkan stunting merupakan masalah gizi kronis yang diakibatkan oleh berbagai faktor,” ungkap mahasiswa asal Universitas Jember tersebut. 

Dikutip dari halam resmi Kemenkes RI, pada akhir tahun 2021 Kemenkes RI juga merilis data hasil Studi, terkait Status Gizi Indonesia (SSGI) yang menunjukkan prevalensi stunting Indonesia yang masih berada di angka 24,4 persen.

Angka ini menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan angka prevalensi stunting Indonesia tahun 2019 yang berada di angka 27,7 persen. Faktor stunting dapat dipengaruhi oleh Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS), yaitu tata cara menggosok gigi dengan baik dan benar. selain itu Gigi yang tidak terawat dapat mengakibatkan rusaknya gigi.

“Salah satu bentuk kerusakan gigi adalah karies (gigi berlubang). Karies gigi dapat berakibat negatif pada asupan nutrisi yang tidak tercukupi. sehingga mahasiswa KKN kolaborasi 239 mengusung kegiatan penyuluhan PHBS menggosok gigi dengan benar dan penyuluhan gizi di SDN 4 jember lor,” Ujar Putri Khofifah Gianto di SDN 4 Jember setelah memberikan penyuluhan kepada para pelajar. 

Kegiatan penyuluhan yang diberikan oleh Mahasiswa KKN Kolaborasi berupa pemaparan materi (gizi & PHBS) dan games. Materi pertama yang diberikan ialah mengenai gizi selanjutnya diisi dengan games piramida gizi yang bertujuan agar siswa siswi memahami mengenai gizi yang baik sesuai dengan panduan “isi piringku” yang telah dijelaskan.

Selanjutnya, pemaparan materi kedua mengenai PHBS tentang tata cara gosok gigi yang baik dan benar. Setelah itu, mahasiswa KKN kolaborasi mengajarkan gosok gigi menggunakan phantom dan siswa-siswi mempraktekkan gosok gigi secara langsung .  Sesi terakhir kegiatan penyuluhan diisi games bernyanyi bersama, lalu ditutup dengan doa.

Melalui kegiatan penyuluhan pemaparan gizi dan PHBS yang dilakukan di SDN 4 Jember Lor, diharapkan dapat memberikan gambaran pada siswa tentang tata cara sikat gigi yang benar sehingga siswa tahu dan mampu memelihara kesehatan dan kebersihan dirinya.

” Jadi penting dalam menerapkan perilaku tersebut, sehingga anak dapat terhindar dari karies atau gigi berlubang. Masalah Gigi pada anak juga bisa menjadi penyebab terjadinya stunting, saat anak terkena karies atau kerusakan gigi, maka nafsu makan anak akan menurun sehingga terjadi ketidak seimbangan gizi, dan nutrisi yang masuk kedalam tubuh juga akan berkurang,” ungkap putri.

Kontributor:

Putri Khofifah Gianto (201810301042)
Muhammad Abdul Rouf (200810101059).
Dian Aris Monna (20010030)

Artikel ini telah dibaca 116 kali

badge-check

Editor

Baca Lainnya

Kepala Sekolah SMP Methodist 9 Dipanggil Dinas Pendidikan Kota Medan Terkait Penyalahgunaan Dana Bos

15 Juni 2024 - 12:18 WIB

Penjelasan Bupati Padang Pariaman Atas Pandangan Umum Fraksi Terhadap Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2023 

14 Juni 2024 - 23:48 WIB

Polda Metro Jaya Ungkap Perampokan Toko Jam Tangan Mewah di Pantai Indah Kapuk 2

14 Juni 2024 - 23:44 WIB

Mabes Polri Gerebek Pabrik Ekstasi di Medan, Wakapolda Sumut: Komitmen Bersama Berantas Narkoba

14 Juni 2024 - 15:01 WIB

Raih Penghargaan Predikat Informatif, Bawaslu Kabupaten Gowa Jaga Transparansi Keterbukaan Informasi Publik

14 Juni 2024 - 14:29 WIB

Warga Minta Inspektorat Periksa Camat Medan Timur Terkait Pemilihan Kepling IV Kelurahan Gaharu

13 Juni 2024 - 19:16 WIB

Trending di Berita